topbella

Sabtu, 21 Juli 2018

Seri Imam Malik

139 - LTF
Seri Imam Malik

➖➖➖🌺🌺🌺🌺🌺➖➖➖

SUATU HARI DI MAJELIS IMAM MALIK

Ini kisah tentang seorang pemuda Andalus yang menyimpan kerinduan untuk belajar di Kota Nabi, Madinah.

Adalah Yahya Ibnu Yahya Al Laitsi, pemuda yang lahir dan dibesarkan di bumi Andalusia, Spanyol.

Yahya telah memendam keinginan untuk melakukan rihlah (perjalanan) untuk menuntut ilmu.  Pilihannya adalah ke Kota Madinah, tempat di mana Imam Malik bin Anas –rahimahullah- tinggal dan mengajar.

Andalus dan Madinah jaraknya sangat jauh. Saat itu transportasi sangat sulit. Namun tekadnya sudah bulat. Tatapannya hanya tertuju pada satu arah, Madinah Nabawiyah.

Semua itu tentunya berbayar. Karena bagi seorang Yahya, rihlah berarti melupakan keindahan Andalus dan bersabar menghadapai kenyataan hidup di dataran Hijaz yang tandus.

Namun tekad kuat yang disertai keikhlasan telah membuat jarak yang jauh itu terasa dekat, ruang dan waktu seolah sempit serta keindahan kampung halaman, tak lagi berarti.

Setibanya di Madinah tanpa basa-basi pemuda Andalus itu langsung duduk di majelis Imam Malik bin Anas, seolah tak ada waktu rehat baginya.

Dalam benaknya meninggalkan keluarga, sanak saudara dan kampung halaman bukanlah pengorbanan yang kecil, sehingga terlalu mahal bila harus mengambil rehat sejenak karena letih setelah melakukan perjalanan yang jauh.

Hari-hari di Madinah dilaluinya dengan semangat yang tak kenal kendor. Semua demi mengurai benang asa yang dirajutnya dulu di tanah air tercinta, Andalus. Hingga suatu hari, saat tengah mendengarkan kajian Imam Malik, tiba-tiba ada serombongan musafir memasuki Madinah.

Adalah Imam Ad Dzahabi menuturkan:
'Ketika itu para musafir datang membawa gajah. Murid-murid Imam Malik berhamburan keluar ingin melihat gajah tersebut dari dekat.

Semua beranjak, kecuali Yahya bin Yahya. Ia tetap duduk dan memandang ke satu arah, ke mana lagi kalau bukan kearah Imam Malik.

Melihat hal itu Imam Malik mendekat dan bertanya, ”Mengapa engkau tidak keluar untuk melihat gajah?”

Yahya menjawab,” Aku jauh-jauh datang dari Andalusia hanya untuk melihat Anda (menuntut ilmu), bukan untuk melihat gajah.”

Keteguhan itu membuat Imam Malik berdecak kagum. Sejak peristiwa itu Imam Malik menjulukinya dengan ‘aqilu Andalus’ (lelaki berakal dari Andalusia).'

Sahabat, kisah Yahya bin Yahya bukan soal suka atau tidak suka melihat gajah, namun ada pesan lain di sana. Yaitu tentang sikap yang harus diambil saat seorang penuntut ilmu yang tak perlu tergoda oleh hal-hal yang tidak seharusnya membuatnya berpaling sedikitpun dari cita-cita awalnya.

Dalam meraih asa, betapa sering langkah kita terhenti oleh hal-hal yang tidak terlalu penting. Kadang semangat untuk menjadi berarti itu kendor hingga titik nadir lantaran keteledoran yang mulanya sebatas iseng-iseng saja.

Iseng-iseng main game, atau mungkin terbawa mental  ‘nanti dulu’, kebiasaan menunda, hingga akhirnya semangat awal yang telah dipupuk, perlahan redup, ibarat pepatah layu sebelum berkembang.

Kisah ini mengajak kita untuk selalu terjaga dan sepenuhnya sadar arti kehadiran kita dalam menuntut ilmu

Begitulah seharusnya kita menata jalan cita-cita selama ini. Sebab waktu kita sangatlah singkat di dunia ini.

Seorang salaf mengatakan,
العلم إذا إعطاك كلك لا يعطيك إلا بعضه
"Ilmu itu, bila semua potensimu kau curahkan untuk meraihnya, dia tidak akan memberimu melainkan setengahnya saja."

Nah bagaimana kalau kita setengah-setengah?

***

Editor: Cholis Akbar
Diolah dari berbagai sumber.

➖➖➖🌺🌺🌺🌺🌺➖➖➖

*Kisah Teladan:*

Telegram: https://telegram.me/kisah_teladan_penuh_hikmah

Telegram: https://telegram.me/sang_sholih

Follow this link to join my WhatsApp group: https://chat.whatsapp.com/2YPmYJTgh0T2CLECvfKpYh

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

 
Yens Share© Designed by: Compartidisimo